Menjadi kampus yang konsisten dalam menerapkan budaya mutu, tentu saja memerlukan support dari berbagai pihak. Baik sumber daya personel, tenaga, sistem yang efektif dan pendanaan yang cukup. Mengingat bahwa pilar dari budaya mutu adalah konsistensi dari pola pikir, sikap, dan perilaku yang sesuai Standar Dikti, tentu saja perlu adanya dukungan oleh sistem dan administrasi yang efektif. Dengan menerapkan administrasi dan sistem yang efektif hal ini akan memudahkan perguruan tinggi dalam melakukan evaluasi dan improvement. Terlebih lagi dua hal ini (evaluasi dan improvement) merupakan pilar dalam penerapan sistem penjamin mutu internal (SPMI). Akan tetapi penerapan sistem ini juga tidak semudah membalikan telapak tangan, dan tentu saja memiliki kendala-kendala.
Kendala-kendala ini muncul karena beberapa hal. Berbeda dengan “kebijakan” atau “standardisasi” yang menjadi “tantangan” hanya saat di awal periode, administrasi dan penerapan sistem merupakan “tantangan” yang muncul saat periode sedang berlangsung. Maka dari itu sangat mungkin jika dalam perjalanannya muncul human error, gagal mengantisipasi force majeure, update data, dll. Kendala seperti ini muncul karena kampus hanya bertumpu pada sumber daya manusia saja tanpa melibatkan aspek teknologi di dalamnya. Praktis, kebijakan/manajemen sebaik apapun akan kesulitan jika tidak disupport oleh teknologi. Dengan menerapkan teknologi kampus tidak hanya akan mencegah human error namun akan mengefisiensikan anggarannya dalam jangka panjang.
Apalagi mengingat saat ini banyak kampus yang ingin mendapatkan dua atau lebih akreditasi dengan satu dokumen tunggal, melibatkan aspek teknologi dalam sistem kampus merupakan hal yang mutlak diperlukan. Kami dapat membantu perguruan tinggi Anda dalam mencapai hal tersebut dengan berbagai layanan unggulan dari kami, seperti:





Pusat Pelatihan, Pendampingan dan Sertifikasi Kompetensi Untuk Sivitas Akademika Perguruan Tinggi